Film pendek ala poliTIKUS

Jangan berharap anda mendapatkan penjelasan mengenai pembuatan film pendek sungguhan pada tulisan saya kali ini. Saya ingin berbagi uneg-uneg mengenai maraknya iklan para poliTIKUS entah itu yang mau jadi calon presiden ataupun calon kepala daerah.

film pendek ala politikus

Coba perhatikan di layar televisi yang semakin bening itu. Lebih fokus lagi pada jam-jam primetime-18.00-21.00 sudah dipastikan kita akan disuguhi oleh iklan sekitar 30 detik (saya menyebutnya film pendek) dari para poliTIKUS kita.

Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa saat ini mulai dari presiden sampai bupati dipilih langsung oleh rakyat, jadi tidak heran kalau para poliTIKUS berlomba-lomba membentuk imej atau berganti baju secara kilat. Padahal tidak sedikit diantaranya termasuk orang yang “berdosa” pada masa jabatannya.

Saya ingin menyoroti mengenai kucuran dana yang dikeluarkan oleh para poliTIKUS tersebut untuk membuat iklan. Memasang iklan pada media televisi pada jam primetime tentu tidak murah, bisa sampai puluhan juta rupiah untuk setiap 30 detiknya.


Pertanyaannya, darimanakah uang tersebut berasal? tentu kita ragu kalau uang tersebut berasal dari kocek para poliTIKUS ini. Seperti yang disinyalir oleh berbagai media, uang kampanye tersebut berasal dari donatur. Lalu apakah para donatur ini memberikan uangnya secara ikhlas dan sukarela? mungkin ada, tapi sangat sedikit sekali.

Menjadi pemimpin bukan perkara mudah dan ringan. Seorang pemimpin harus mampu mengayomi rakyatnya. Apa yang dirasakan rakyatnya harus dirasakan juga oleh pemimpin. Ketika rakyatnya butuh pertolongan, maka pemimpinlah yang berkewajiban menolong. Seorang pemimpin harus berusaha sekuat tenaga untuk mensejahterakan rakyatnya. Jika sudah melakukan itu maka dia akan dicintai oleh rakyatnya dengan tulus dari hati yang paling dalam.

Menurut pandangan saya, menjadi pemimpin itu sungguh luar biasa beratnya. Namun lagi-lagi saya berbeda pandangan dengan para poliTIKUS.

Pertanyaan yang menjadi tanda tanya besar di benak saya adalah kalau menjadi pemimpin itu berat, lalu kenapa ada yang berani mencalonkan diri menjadi pemimpin, presiden atau kepala daerah? bahkan berani mengucurkan uang milyaran rupiah demi melancarkan jalan menuju kursi empuk? Seandainya mereka mempunyai niat tulus dan ikhlas demi mensejahterakan rakyat, saya acungi empat jempol sekaligus.

Menurut tuntunan agama yang saya anut, seorang pemimpin itu harus dicalonkan bukan mencalonkan. Saya sangat setuju, bagaimana mungkin ada orang yang mau mengajukan diri untuk mengangkat beban apalagi dengan sogokan.

Belakangan ini kerja keras dari tim KPK sudah menuai prestasi. Beberapa pejabat atau poliTIKUS yang korup sudah terkena batunya. Mereka kedapatan sedang, telah dan akan melakukan tindakan korupsi.

Mungkin itulah jawaban yang saya pertanyakan selama ini. Para poliTIKUS yang sepertinya baik hati kepada rakyat pada masa kampanye, ketika menjabat akan meraup uang rakyat untuk mengembalikan uang yang habis untuk kampanye yang telah dilakukannya pada masa lalu.

NB: poliTIKUS adalah para politisi busuk yang memakan harta bukan haknya, yang berasal dari darah dan keringat rakyat, seperti halnya tikus-tikus yang mencuri makanan tanpa seijin empunya.

Komentar dari forum detik

ada politikus yg emang kaya krn dia pedagang, ada yg kaya karena dia jendral, ada yg kaya karena donatur…

kl pake logika sederhana aja, kl mereka keluar duit sebanyak itu, berarti minimal harus balik modal kan? yg jelas sih mereka ngincer keuntungan lah…apakah pemimpin yg berusaha menutupi kerugian uang mereka dengan menjabat merupakan calon pemimpin negara kita?

apakah anda2 mau dipimpin oleh poli-tikus busuk yg hanya mengincar keuntungan pribadi/kelompok??

bagus topik ini diangkat…

mari kita berpikir!

oleh tomche

CO.CC:Free Domain This entry was posted on Friday, July 11th, 2008 and is filed under Sosial Politik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Film pendek ala poliTIKUS”

  1. DD on September 13th, 2008 at 3:51 pm

    Biarlah masyarakat kita yang menilai, kalau saya udah ngak peduli lagi, udah cape.
    Cuman kesel aja, udah abis duit untuk pemilu. Eh yang dipilh malah pada ancur moralnya.

    Cuman kalau dipikir, sebenarnya nih kita sebagai rakyat sedikit banyank ikut andil juga akan keadan seperti ini. Kenapa pula orang seperti itu kita pilih,

    Mungkin kita berprinsip dari pada tidak milih, yah mending pilih aja yang terbaik dari yang terburuk. meskipun kita tahu hasil nya akan seperti sekarang ini, Pejabat korupsilah, anggaota dewan di suaplah , dan ini memang konsekwensi dari pilahan kita.

    Untuk itu untuk kedepan mari kita harus lebih hati hati memilih pemingpin kita, jangan sampai waktu kampanye ngasih ini lah,ngasih itulah. ketika udah jadi malah meres
    kita.

    Kalau masalah iklan polikus angap aja seperti iklan telpon operator selular. ngaku pada paling murah padahal sama aja, ngaku bela rakyat padahal au deh gelap.

  2. DS Rachmat on September 13th, 2008 at 4:11 pm

    Sayangnya rakyat kita tidak menyadari bahwa sebetulnya rakyat mempunyai kekuatan yang luar biasa dalam menentukan masa depan bangsa.

    Kalau kita ingin bangsa ini bebas korupsi, maka jangan pilih wakil rakyat yang korup. Mudah kan? namun sayangnya ada oknum rakyat yang menggadaikan nasib bangsa ini demi uang ratusan ribu rupiah, mereka tidak segan-segan memilih wakil rakyat yang korup demi sekantong sembako.

    Selamat berjuang memilih wakil rakyat yang bermoral!

Leave a Reply

Sponsors

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Tulisan Populer

Tags

Tigi Bedhead