May
16

Jalan pagi sambil berwisata rohani

Author DS Rachmat     Category Catatan Pribadi     Tags
Share

Entah yang keberapa kalinya saya jalan-jalan menyusuri alam Sukabumi yang asri dan alami. Pepohonan hijau yang masih berdiri kokoh dan perkebunan teh bak hamparan karpet, masih bisa ditemui di sini.

Mata yang terbiasa melihat hilir mudik kuda besi, terobati dengan hijaunya alam pegunungan.

“Sungguh beruntung saya dilahirkan di Sukabumi.” gumam saya.

Sebelum sampai ke tempat yang dituju, saya ditemani sahabat saya, harus menyusuri jalan raya terlebih dahulu. Kurang lebih setengah jam, setelah itu siap-siap melihat karunia Allah yang tiada terkira, hamparan hijau pepohonan yang tak henti-hentinya meniupkan oksigen segar bagi kelangsungan hidup makhluk hidup. Subhanallah.

Sepanjang perjalanan, kami melewati rumah-rumah penduduk yang masih sederhana. Terlihat sekali bahwa mereka menjalani hidup secara sederhana, tidak ada kemewahan disana. Terselip beberapa rumah yang cukup mewah berada diantaranya, ironis sekali, seperti bumi dan langit. Disatu sisi berada pada kehidupan yang sangat sederhana, sementara di sisi lain hidup dalam kelebihan.

Melihat kondisi ini terlontar sebuah kalimat “Itulah Indonesia :)”. Sebuah negeri yang sedang bangkit menumbuhkan kembali nilai-nilai sosial, yang sebetulnya sudah sejak dahulu kala menjadi budaya nenek moyang kita.

Nilai-nilai budaya Indonesia seperti gotong royong, kekeluargaan, sopan santun, sudah tergerus oleh budaya asing yang individualistis, hedonis dan matrelialistis.

Ah, dunia memang berputar, yang tadinya baik, berubah menjadi buruk, begitupun sebaliknya. Akan tetap demikian selama dunia masih berputar, karena itu sudah ketetapan Allah SWT.

Ditengah perjalanan yang cukup melelahkan, terlihat seorang ayah dengan anaknya sedang mencuci motor yang dipakainya. Dengan tenang dia membersihkan motor menggunakan aliran sungai kecil yang berada tepat di pinggir jalan. Pemandangan yang jarang saya temui, biasanya orang-orang di perkotaan pergi ke tempat pencucian motor, karena lebih praktis, dengan hanya mengeluarkan uang enam ribu rupiah, si pemilik motor tidak perlu berkeringat dan mengotori tangannya.

Tidak lama kemudian, saya disuguhi pemandangan alam yang luar biasa indah, menyejukan mata.

Hamparan perkebunan teh

Hamparan perkebunan teh

Sejenak menghirup oksigen yang segar dan pemandangan yang menyegarkan. Terlihat komplek pemakaman yang cukup besar. Hening sejenak mengingat kematian yang kelak akan saya alami.

Uhmm… Teringat akan dosa-dosa yang kian menumpuk yang entah kapan dapat dihapus oleh amal-amal soleh saya. Sepertinya saya lebih sering menumpuk dosa dibandingkan mengumpulkan amal soleh.

Kuberserah hanya kepadaMu Ya Rabb, aku memang pantas berada di nerakaMu, surgaMu terlalu berharga untuk ditempati oleh orang durhaka sepertiku.

Ah, tak terasa saya sudah berada di jalan besar, Salabintana. Angkot (angkutan kota) segera menyambut kami yang kelelahan.

Sepuluh menit kemudian, kami berhenti di Lapangan Merdeka, untuk melanjutkan makan Geco (toge tauco), makanan khas Sukabumi yang masih eksis sampai saat ini. Cukup dengan selembar uang lima ribu rupiah, perut kami cukup mendapatkan asupan makanan yang kaya akan serat.

Rasanya yang manis dan sedikit pedas memberikan rasa tersendiri di lidah kami, terkadang saya menambahkan sedikit sambal, agar terasa lebih pedas. Letaknya yang berada tepat di belakang Lapang Merdeka, Sukabumi, atau 500 meter dari rumah saya, menjadikan Geco ini langganan kami hampir setiap minggunya.

Alhamdulillah, beberapa menit kemudian saya sampai di rumah. Setumpuk pengalaman rohani terasa menyejukan hati, sepantasnya saya mensyukuri segala apa yang saya dapatkan selama ini.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S ibrahim:7)

Post comment