Ada yang beda menjelang hari raya Idul Fitri kali ini. Meja bundar yang ditata sedemikian rupa dipenuhi oleh beberapa tokoh partai di Indonesia. Sebut saja Yusudf Kalla (Wapres, Golkar), Yusril Ihza Mahendra (PBB), Wiranto (Hanura), Taufik Kemas (PDIP), Hidayat Nur Wahid (PKS), Muhaimin Iskandar (PKB) dan pemimpin redaksi Republika Ikhwanul kiram Mashuri. Peristiwa yang terbilang langka ini disiarkan oleh stasiun tv nasional. Apakah yang sebenernya terjadi?
Setiap bulan ramadhan, saya selalu mempunyai kenangan tersendiri, termasuk ramadhan tahun ini. Selama sebulan penuh ini, saya ditemani oleh program acara yang sangat inspiratif. Ada tiga program acara yang tidak pernah saya lewatkan, yakni Program talkshow ‘Ensiklopedi Islam’, Sinetron Religi ‘PPT-Para Pencari Tuhan’ dan ‘Rinduku Cintamu’.
Hujan yang turun saat ini dirasakan dilematis bagi sebagian orang, betapa tidak, bagi warga perkotaan yang notabene sudah tidak mempunyai daerah serapan air dan pepohonan, turunnya hujan menjadi sumber bencana. Bencana banjir yang sudah akrab mereka alami dari waktu ke waktu menjadikan satu paket tambahan dengan hingar bingarnya kota besar, namun bagi kaum petani yang hidup di pedesaan, turunnya hujan merupakan berkah yang tiada terkira, karena tanaman mereka akan tumbuh dengan semestinya.
Ketika saya menulis blog ini, jam di komputer saya sudah menunjukan pukul 21.25, ditemani alunan lagu Boyz II men di keheningan gelapnya malam, maka tertuanglah tulisan ini.
Malam itu saya iseng buka friendster, entah kenapa tiba-tiba saja ada keinginan untuk melihat deretan teman-teman saya di friendster. Tanpa disadari, mata saya tertuju pada foto teman saya yang sudah almarhum. Disitu tertulis testimonial dari sahabat-sahabatnya yang indah sekali. Doa-doa yang teriring dari hati yang ikhlas sebagai tanda cintanya kepada beliau. Doa pengantar ke alam yang tenang dan abadi.
Teman saya mendadak rajin shalat karena seorang istri yang telah dipinangnya. Tukang bakwan yang mangkal di depan rumah saya, mendadak rajin jualan karena istri yang baru dinikahinya.
Konon katanya bangsa kita-bangsa pemalas dan bodoh. Mungkin ada benarnya juga, namun anggapan tadi sedikit namun pasti akan luntur dengan sendirinya. Bagaiman tidak, telah banyak anak-anak bangsa kita yang sudah mendunia melalui prestasinya.
Mengganti minyak tanah atau gas elpiji dengan biogas mungkin sudah bukan hal yang aneh lagi. Namun ternyata bahan bakar yang berasal dari kotoran hewan ini bisa dijadikan sebagai penggerak sepeda motor.