Korupsi Tersistematis

Teman saya bercerita tentang aktivitas kerjanya sebagai Sales Officer di salah satu bank swasta di Sukabumi. Dia berkeliling ke sudut-sudut kota ke tempat-tempat orang yang membutuhkan uang. Ada pahit dan manis, dia bilang seperti itu. Manisnya, tatkala dia bertemu dengan pengusaha yang membutuhkan dana segar kepadanya, jika beruntung dia juga kerapkali mendapatkan uang dari nasabah yang dana pinjamannya cair. Pahitnya ketika kelengkapan administrasi untuk pencairan pinjaman tidak lengkap atau tidak ada. Seperti KTP nasabah yang kadaluarsa, pembayaran pajak, IMB dan lain-lain.

Hal tersebut kerapkali menjadi aktivitas tambahan, karena tak jarang para calon peminjam ini tidak mempunyai kelengkapan administrasi agunannya tersebut. Alhasil teman saya itulah yang mengurusnya ke instansi terkait. Kita tahu seperti apa kualitas pelayanan publik di negeri ini. Setiap kali mengurusi surat-surat tersebut dia harus menyediakan sejumlah uang agar cepat selesai pada waktunya. Memang uangnya bukan dari uang pribadinya, melainkan dari nasabah.

Mau tidak mau atau suka tidak suka seperti itulah aparat kita. Setiap kali masyarakatnya membutuhkan pelayanannya. Uang yang menjadi ukuran, apakah mereka patut diberikan pelayanan biasa-biasa saja atau layanan VIP. Jika kita menginginkan pelayanan yang cepat, maka kita harus merelakan beberapa rupiah dari kantong kita berpindah ke kantong para aparat.

Bisa jadi teman saya tidak bermaksud untuk menyogok aparat, namun apa jadinya jika dia tidak bisa mendapatkan kelengkapan administrasi yang seharusnya sudah dimiliki peminjam. Di satu sisi dia bekerja untuk perusahaan yang menetapkan target, di sisi lain dia harus berhadapan dengan aparat-aparat yang korup.

Mungkin itulah salah satu contoh dari korupsi yang tersistematis yang terselenggara di seluruh penjuru negeri yang bernama Indonesia ini.

Salam
DS Rachmat